Kalbar Komitmen Dorong Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Komoditas

Kembali ke daftar berita

RMOL. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan hijau yang menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan dan sosial, hal tersebut dengan melakukan tindakan termasuk mendorong REDD atau Penurunan Emisi dari Pemcegahan Deforestasi dan Degradasi Hutan.‎ "Untuk melaksanakan itu, harus ada keterlibatan tiga komponen untuk melaksanakannya, diantaranya Pemerintah dan Swasta serta keterlibatan Masyarakat, "ungkap Gubernur Cornelis, ketika meluncurkan Percontohan Kemitraan Untuk Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Komoditas di Provinsi Kalimantan Barat, di Hotel JW.Marriot, Jumat (27/5). Menurut Cornelis Indonesia khususnya Kalimantan hutannya merupakan penyuplai terbesar dalam menjaga terjadinya pemanasan global rumah kaca , sebagai paru paru dunia semua pihak harus menjaga hutan, melestarikannya, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, namun harus ada kepedulian semua pihak terutama pihak swasta dan masyarakat. Untuk itu, kata Cornelis, para pemangku kepentingan baik dalam maupun lar negeri, diharapkan bersama mencari solusi akan tantangan pertumbuhan hijau, pendekatan Landskap yang sukses sangat tergantung pada kepemimpinan yang kuat oleh pemerintah serta didukung oleh pemangku kepentingan yang bekerjasama untuk memecahkan masalah khususnya dalam menjaga Hutan. "Sekarang ini kita jangan lagi saling menyalahan, tetapi mulai sekarang kita harus berbuat dan melakukan action dalam menangani serta mencegah akan pemanasan global," papar Cornelis. Pada COP 21,Indonesia berkomitman utnuk mengurangi emisi sebesar 29 persen dengan pendanaan sendiri sebesar 41 persen dan bantuan pihak internasional pada tahun 2030 sektor lahan berkontribusi sekitar 70-80 persen terhadap komitmen tersebut. Komitmen tersebut menjadi perhatian enam Gubernur di Indonesia yang tergabung dalam GCF Task Force sejak Tahun 2008, enam Provinsi GCF tersebut mememiliki tutupan hutan dan kawasan hutan 58 persen, dari total kawasan dan tutupan hutan di Indonesi, dan 64 persen lahan gambut dan hutan gambut. "Hutan dan lahan gambut memiliki potensi besar dalam menyumbang emisi gas rumah kaca , pengurang emisi dari sektor ini sangat perlu dilakukan terutama dalam menekan lahu deforestasi dan degradasi hutan," tegas Cornelis. Semantara itu dalam Peluncuran Percontohan Kemitraan untuk Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Komoditas pertama telah ini dilakukan pihak swasta pertama kalinya di Kalbar dilakukan oleh pihak PT.CUS dihadiri Presiden Direktur Hasjim Oemar dan IDH dihadiri Direkturnya Fitriani Ardiansyah. Kegiatan ini merupakan komitmen untuk pembangunan berkelanjutan di Provinsi Kalbar, sehingga kemakmuran ekonomi masyarakat dan perlindungan lingkungan dapat berjalan bersama. "Kami juga merasa bangga ikut memberikan kontribusi dan berperan bersama pemerintah menjaga serta melestarikan hutan," kata Hasjim Oemar.‎ Hadir dalam peluncuran tersebut diantaranya Duta Besar Kerajaan Belanda H.E.Rob Swartbol dan Duta Besar Kerajaan Norwegia H.E.Stig Traavik selaku Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead serta 6 Gubernur yang tergabung dalam GCF serta Anggota DPR RI dan Akademisi.

Sumber: Rmoljakarta