Partisipasi swasta Indonesia dalam konservasi alam (COP 20, Pentagonito, Lima, Peru)

Kembali ke daftar berita

Konservasi Harimau Sumatera dilakukan atas kesadaran untuk melestarikan rantai kehidupan.

JAKARTA - Cerita tentang upaya penyelamatan Harimau Sumatera (Panthera Tigris) yang nyaris punah oleh pihak konservasi alam liar Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung Barat memukau perhatian delegasi yang memenuhi ruangan Paviliun Indonesia di Conference of Parties (COP) 20 di Lima, Peru.

"Pusat rehabilitasi Harimau Sumatera di TWNC bertujuan untuk menyiapkan harimau untuk dilepas kembali ke habitatnya. Keberhasilan TWNC dalam rehabilitasi harimau mendapat apresiasi dari lembaga internasional," kata Maria Edna, staf konservasi di TWNC, pada acara COP 20, di Lima, ibukota Peru, dalam rilis yang diterima SH, Kamis (11/12).

Menurut Maria Edna, kegiatan konservasi Harimau Sumatera dilakukan atas kesadaran untuk melestarikan rantai kehidupan di kawasan TWNC. Saat ini diperkirakan ada 300-400 ekor Harimau di Pulau Sumatera. Sementara di area TWNC, pada 2012-2013 diidentifikasi masih terdapat 24 ekor Harimau Sumatera.  

Apa yang dilakukan Artha Graha Peduli di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di TWNC, mendapat pengakuan dari Alan Rabinowitz, ahli harimau yang mendapatkan kesempatan melakukan penelitian selama dua pekan di TWNC. Menurut dia, apa yang dilakukan pengusaha Tomy Winata sebagai pemilik yayasan tersebut terbukti berhasil menambah populasi Harimau secara alami. Bahkan, kini, penelitian Alan sudah bisa ditonton oleh warga dunia di BBC, dalam film dokumenter yang berjudul "Tiger Island".

Maria Edna menjelaskan, konservasi Harimau Sumatera dan sejumlah satwa yang rawan punah ini sudah dilakukan sejak 1996. Saat ini, TWNC tengah merehabilitasi sembilan ekor harimau yang berasal dari sejumlah lokasi, yakni Jambi, Bengkulu dan Aceh.

Sementara itu, menurut wakil dari perusahaan perkebunan kelapa sawit, PT Pasifik Agro Sentosa, Kent Dixon, salah satu kunci sukses dalam menjalin komunikasi dengan masyarakat sekitar pabrik dengan cara melakukan pemenuhan hal mendasar yang dibutuhkan. Di antaranya adalah membangun infrastruktur, menyediakan fasilitas kesehatan dan mendukung pendidikan bagi anak-anak warga. "Tiga faktor tersebut kami lakukan sebagai pemenuhan kebutuhan warga sekitar pabrik," ujarnya.

Kent menjelaskan, "Bagi kami, apa yang kami lakukan merupakan sebuah komitmen untuk mengimplementasikan kegiatan yang selaras dengan pembangunan berkelanjutan," tuturnya saat melakukan presentasi di depan sejumlah delegasi COP 20.

"Sejauh ini, kepentingan bisnis dan konservasi dapat berjalan seiring. Tapi, kami sadar apa yang kami lakukan belum sempurna. Kami berharap masukan dari forum COP yang penuh dengan para ahli pembangunan berkelanjutan," ujar Kent.

Menurut dia, PT Pasifik Agro Sentosa mendapat ijin pengelolaaan perkebunan sawit seluas 40 ribu hektar. Dari total area yang bisa digarap, 10 hektar, dialokasikan untuk kegiatan konservasi hutan. "Dalam menjalankan bisnis, kami bertumpu pada tiga hal, yakni people, planet and profit. Untuk people diimplementasikan dengan kegiatan pengembangan masyarakat sekitar perkebunan, sementara planet dengan kegiatan konservasi," ujarnya.

Atas upayanya mengimplementasikan tiga pilar itu, PT PAS banyak mengantongi sejumlah sertifikasi internasional termasuk RSPO (Roundtable Sustainable Palm Oil), ISCC (International Sustainable and Carbon Certificate) dan ISO. "Kami juga mendapat apresasi dari Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis MH, berupa penghargaaan pengelolaan sumberdaya alam lestari, pada World Environment Day 2013," kata Kent Dixon.

Sumber : Sinar Harapan